Wednesday, August 21, 2013

Ringkasan Biografi Imam Khomeini

(Dikutib dan diedit dari Majalah Yaum Al-Quds, No 10, Zulqaidah 1403 H oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional — Forum SPTN, Jakarta)
Bismillahirrahmanirrahim.
I
mam Khomeini dilahirkan pada tahun 1278 H (1900 M) di Provinsi Khomein (dahulu dikenal sebagai Provinsi Kamareh), bertepatan dengan hari ulang tahun kelahiran Fatimah az-Zahrah (20 Jumadil Akhir), puteri Rasulullah Muhammad saw. Ayah beliau, Sayyid Mustafa, adalah seorang ulama besar yang dicintai rakyat dan terbunuh oleh agen-agen Syah Reza Pahlevi pada bulan Zulhijjah atau 19 September 1902.
Sayyid Mustafa meninggalkan tiga orang puteri dan tiga putera. Imam Khomeini adalah yang bungsu.
Pada usia 15 tahun, ibunya meninggal dunia, demikian pula bibik yang mengasuh beliau. Sejak masa kanak-kanak, Imam Khomeini mulai belajar menulis dan membaca di rumah. Kemudian, beliau masuk ke suatu sekolah yang baru saja didirikan; dan di situ beliau belajar dengan sungguh-sungguh. Sebelum genap berusia 15 tahun, beliau telah mahir bahasa Parsi, kemudian mulai belajar pengantar ilmu-ilmu pengetahuan Islam dari abangnya, Pasandideh.
Sesudah itu, Imam Khomeini pergi ke Arak, lalu ke Qum. Di sini beliau belajar pada Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi. Pada tahun 1922 beliau menyelesaikan tingkat pelajaran tertinggi seraya membantu Syaikh Hairi mengajar.
Ketika Syaikh Hairi meninggal (tahun 1937), Imam Khomeini telah termasuk salah seorang tokoh ulama terkemuka dan dikenal sebagai seorang alim yang jenius. Selain pengetahuannya yang luas di bidang hukum, beliau juga dikenal sebagai seorang spesialis dalam pengetahuan astronomi, falsafah umum, falsafah tradisional, dan irfan (gnosis). Gurunya di bidang astronomi adalah Ali Akbar Yazdi, sedangkan dalam falsafah umum, falsafah tradisional, dan irfan adalah Muhammad Ali Shahabadi.
Imam Khomeini memiliki dua anak laki-laki dan tiga perempuan. Putera beliau yang tertua, Ayatullah Sayyid Mustafa Khomeini, mati syahid pada tanggal 23 Oktober 1977 melalui pembunuhan misterius (operasi intelijen) yang dilakukan oleh agen-agen pemerintahan despotik Syah Reza Pahlevi.
Lebih dari tiga puluh judul buku — tentang berbagai aspek — telah ditulis oleh Imam Khomeini. Banyak pihak menilai buku-buku tersebut berkualitas tinggi dan pembahasannya sangat rinci dan mendalam. Di saat rezim tiranik Reza Khan (ayah Syah Reza Pahlevi, Syah Iran terakhir) sedang berkuasa, Imam Khomeini menulis buku: “Kasyf-al-Asrar” (Mengungkap Rahasia), yang gaya penulisannya sangat tegas dan tidak mengenal kompromi. Agaknya, gaya ini merupakan ciri khas dari tulisan-tulisan beliau. Dalam buku “Kasyf-al-Asrar” itu, Imam Khomeini mengutuk keras rezim Reza Khan yang secara kasat mata — dan tidak kenal malu — menggantungkan diri pada kekuatan asing, dalam hal ini Inggris.
Beliau juga melihat dengan jelas bahwa permusuhan rezim Pahlevi terhadap Islam bukanlah semata-mata didorong oleh hasrat seorang diktator, tetapi merupakan bagian dari satu rencana besar untuk melenyapkan Islam sebagai satu kekuatan sosial-politik di seluruh dunia. Rencana tersebut disusun oleh pusat-pusat kajian imperialistik dan dipercayakan kepada agen-agen setempat untuk mewujudkannya. Di Iran, agen mereka adalah Reza Khan.
Dalam buku Kasy-al-Asrar tersebut, Imam Khomeini menulis, “Semua perintah yang dikeluarkan oleh rezim diktator dari bandit Reza Khan, sama sekali tidak bernilai. Undang-undang yang dikeluarkan oleh parlemen binaannya harus dirobek-robek dan dibakar. Semua kata-kata sinting yang telah keluar dari otak serdadu yang buta huruf itu adalah busuk, dan hanya Hukum Allah yang tetap dan lestari dari gerusan waktu”. Kata-kata yang sama sekali tidak mengenal kompromi ini ditandai oleh satu pandangan batin yang radikal dan ditransformasikan ke dalam realitas politik.
Zaman Ayatullah Borujerdi
Pada waktu Ayatullah Borujerdi menjadi ulama besar di Qum, Imam Khomeini telah menduduki tempat yang menonjol. Sepanjang masa ini beliau berusaha untuk menyimpulkan satu realisme politik serta patuh kepada Ayatullah Borujerdi. Imam Khomeini membangun banyak pengikut di kalangan ulama muda di Qum dan tempat-tempat lain; dan ini semua kemudian menjadi bagian penting sebagai kekuatan pengarah revolusi (Revolusi Islam Iran).
Kedudukan Menonjol
Kemunculan Imam Khomeini secara menonjol dimulai sejak tahun setelah tumbangnya Mossadegh melalui coup d’etat yang dirancang CIA (dinas rahasia AS). Pada tahun 1963, Syah
Reza meresmikan pembukaan apa yang disebut sebagai “Revolusi Putih” oleh pers Barat dan mesin propaganda dalam negeri. Menurut Syah Reza, satu-satunya yang mengakibatkan ia patut disebut “putih” adalah bahwa karena ia direncanakan di Gedung Putih (Amerika Serikat / AS). Tentu saja, pastilah ia tidak putih dalam pengertian tidak menumpahkan darah; dan bahwa ia pun tidak pantas disebut “revolusi”. Bahkan sebaliknya, ia harus dipandang sebagai satu usaha untuk mencegah revolusi.
Yang disebut Revolusi Putih itu terdiri dari satu paket dari tindakan-tindakan yang dianggap sebagai strategi dan perencanaan untuk mereformasi masyarakat Iran, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pekerja industri, serta untuk mewujudkan emansipasi kaum perempuan. Di antara berbagai tindakan yang termasuk dalam rencana tersebut, ada dua yang ditonjolkan secara khusus: land reform dan hak-hak perempuan. Secara khusus, keduanya ditonjolkan dalam propaganda pemerintahan Syah Reza serta para pendukungnya yang berbangsa asing. Sebelum kita lanjutkan riwayat perjuangan Imam Khomeini menentang kediktatoran dan tirani, agaknya patut dikemukakan sedikit tentang sifat dari kedua kebijakan itu.
Slogan land reform di Iran adalah satu kamuflase penghancuran total ekonomi agraris yang direncanakan untuk memberikan jaminan keuntungan maksimum bagi keluarga raja, sebuah oligarki yang terikat kepada kepentingan agribisnis keluarga raja dan pihak asing, terutama perusahaan-perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat, Eropa, dan Israel.
Memang, sejumlah bidang tanah tertentu dibagi-bagikan kepada kalangan petani. Tetapi, bidang-bidang tanah tersebut nyaris tak dapat ditanami, dan pembagiannya pun tidak gratis melainkan harus dibayar dengan uang yang disetorkan ke bank-bank yang dikuasai keluarga raja. Sementara itu, bidang-bidang tanah yang luas dan subur dikecualikan dari undang-undang, dan itu dimasukkan ke dalam pemilikan langsung keluarga raja di bawah penguasaan Yayasan Pahlevi. Tentu saja, yayasan ini merupakan kedok bagi kiprah keluarga raja atau untuk melindungi kepentingan agribisnis asing tertentu yang menggunakan tanah agraria Iran untuk ditanami tanaman-tanaman yang tidak dikonsumsi di Iran atau untuk dipasok di pasar luar negeri. Sebagai contoh, areal tanah yang luas disediakan untuk budidaya asparagus, komoditas pangan yang sama sekali tidak dikenal dalam menu makanan rakyat Iran.
Di sisi lain, mentega hasil produksi Iran semakin sukar didapatkan sehingga di pasar raya Teheran hanya dapat ditemui mentega buatan Denmark.
Penghancuran ekonomi pertanian seperti itu telah menyebabkan depopulasi besar bagi penduduk pedesaan yang kemudian mendorong derasnya urbanisasi untuk mendapatkan pekerjaan dan mempertahankan hidup.
Parahnya lagi, kelas tuan tanah dikondisikan untuk menjadi spekulator-spekulator real estate di kawasan perkotaan, dan juga pedagang ekspor-impor. Dapat dipastikan, secara finansial, mereka ini sangat diuntungkan.
Slogan tentang Hak Perempuan
Sementara itu, kebijakan Syah Pahlevi yang terkait dengan Hak-Hak Perempuan lebih banyak dimaksudkan untuk konsumsi luar negeri, dan bukan untuk kepentingan domestik. Ini disebabkan karena para penasehat luar negeri Syah menyadari pandangan negatif masyarakat Barat terkait dengan kebiasaan sebagian besar kaum Muslimin dalam memperlakukan perempuan. Cara ini dipandang sangat ampuh dalam memosisikan Syah sebagai tokoh yang berpikiran maju, berjasa, dan memerhatikan kepentingan Muslimat Iran yang tertindas.
Realitasnya telah terjadi transformasi besar dalam peran sosial-politik perempuan Iran selama dua puluh lima tahun — atau paling kurang lima belas tahun — tetapi arah perubahannya bertentangan dengan yang dikehendaki rezim itu. Perempuan Iran mendapatkan emansipasinya bukan melalui tindakan-tindakan yang ditetapkan oleh penguasa, tetapi justru dari perjuangan mereka melawan rezim tersebut. Sebagai konsekuensinya, banyak perempuan Iran yang hidup dalam penghinaan, penyiksaan, pemenjaraan, bahkan kematian syahadah (syahid).
Dalam sejumlah deklarasi Ayatullah Khomeini sejak Maret 1963 — sebagai bagian dari perjuangan beliau menentang Syah yang telah melakukan kebohongan publik dengan berlindung di balik slogan “Revolusi Putih — tidak didapati istilah yang baku tentang land reform dan hak-hak perempuan. Dan sangat nyata sekali bahwa hingga menjelang Revolusi Islam, pers Amerika Serikat dan Inggris mensosialisasikan istilah: kaum Muslim konservatif, reaksioner, dan fanatik yang berjuang melawan Syah yang memaksakan kebijakan land reform dan rencana pengambilalihan tanah.
Hak Istimewa Amerika Serikat dan Inggris
Dalam deklarasi-deklarasi Imam Khomeini (yang dibuat beliau sejak tahun 1963) — yang hingga kini masih terpelihara rapih dan dapat dibaca oleh siapa pun yang mengerti bahasa Parsi — beliau memusatkan perhatian pada berbagai tema lain. Pertama, beliau menentang pelanggaran Syah, yang terus-menerus, terhadap Undang-Undang Dasar dan Sumpah yang diikrarkannya (Syah) ketika naik tahta. Sebagaimana diketahui, dalam ikrar tersebut dinyatakan bahwa ia akan memelihara dan melindungi Islam.
Kedua, Imam Khomeini menentang tunduknya Syah pada kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika Serikat dan Israel.
Terkait dengan Revolusi Islam, Imam memandang sangat penting masalah Israel, mengingat Israel menempati urutan kedua — setelah Amerika Serikat — sebagai penyokong utama kediktatoran Syah Reza Pahlevi.. Sayangnya, ini tidak diketahui umum akibat embargo berita (informasi) yang dilakukan oleh pihak yang mengklaim diri sebagai pers merdeka menurut standar Barat.. Sudah menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa ada dua hal pokok yang sama sekali tidak boleh dikomentari atau dikritik oleh publik, pertama adalah keluarga kerajaan, sedangkan yang kedua adalah Israel. Aturan ini sangat dipegang teguh oleh SAVAK, polisi rahasia Syah yang didirikan oleh Amerika Serikat (AS). Yang menarik adalah bahwa AS pun masih boleh dikritik dalam hal-hal tertentu. Sebaliknya, “nama” Israel disebut pun tidak boleh.
Pada tahun 1963, Imam Khomeini — dengan karakter khasnya yang tidak mengenal kompromi sedikit pun terhadap kebatilan — mematahkan aturan itu seraya membuka kedok kerjasama yang sangat erat antara Israel dan rezim Pahlevi, baik di bidang militer, politik, intelijen maupun ekonomi.
Serangan ke Qum
Setelah Imam Khomeini berbicara pada sebuah madrasah (hawzah) di Qum — pada bulan Maret 1963 — terjadilah serangan di madrasah tersebut oleh gabungan tentara dan polisi. Sejumlah orang syahid dalam peristiwa ini, sedangkan Imam Khomeini ditahan beberapa lama, kemudian dibebaskan.
Akan tetapi, segera setelah bebas, beliau meningkatkan intensitas dan frekuensi serangan-serangannya terhadap rezim tiranik. Pada bulan Juni tahun itu juga (1963) — yang bertepatan dengan bulan Muharram — Imam melancarkan kampanye menyeluruh dalam rangka pembentukan opini publik dengan menggerakkan, secara terkoordinasi, para pemimpin agama (ulama).
Melalui serangkaian deklarasi, beliau terus menyerang ketundukan Syah kepada kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika Serikat (AS) dan Israel; di samping juga tindakan Syah yang menginjak-nginjak ajaran Islam dan Undang-Undang Dasar Iran. Patut dicatat, satu topik khusus yang menjadi pemicu kebangkitan gerakan di bulan Juni 1963 itu adalah pemberian konsesi kepada para personel militer AS, di mana mereka diberi pengecualian sepenuhnya dari jurisdiksi Iran sehingga — dalam bahasa Imam Khomeini — apabila anjing seorang prajurit AS menggigit Syah sendiri, misalnya, maka Syah tidak dapat menuntutnya secara hukum.
Pemberian konsesi istimewa — dan juga kontrak pinjaman senilai 200 juta dollar dari AS untuk pembelian peralatan militer atau alat utama sistem persenjataan (alutsista) Angkatan Bersenjata Iran (waktu itu kekuatannya menempati urutan ke-5 terbesar di dunia) — memberikan gambaran jelas betapa rezim Syah Reza Pahlevi telah menggadaikan diri kepada kekuatan-kekuatan asing imperialistik.
Dengan tegas Imam Khomeini mengatakan bahwa pemungutan suara di Majlis (Perwakilan Rakyat) yang telah mengesahkan ketentuan atau peraturan tersebut harus dianggap batal, tidak sah, dan bertentangan dengan Al-Qur’an. Beliau kemudian mengeluarkan seruan kepada tentara Iran agar bangkit untuk menggulingkan rezim despotik Syah Reza Pahlevi, dan kepada rakyat dianjurkan untuk — secara total — tidak lagi mentolerir para tiran yang memperbudak bangsa Iran.
Kebangkitan 5 Juni 1963
Pada tanggal 15 Khordad (15 Juni 1963) terjadi kebangkitan besar serentak di berbagai kota di Iran, yang kemudian ditumpas secara sadis dan biadab oleh rezim Syah. Perlu diketengahkan bahwa sebelumnya, Syah juga gemar memberikan perintah kepada para polisi rahasia dan tentaranya untuk menembak mati siapa pun yang menjadi targetnya. Menurut perkiraan, pada hari itu (15 Juni 1963) — dan pada saat-saat lain yang memiliki hubungan dengannya — ada sekitar 15.000 rakyat yang terbunuh. Akibat dari peristiwa tersebut Imam Khomeini ditangkap lagi, kemudian diasingkan ke Bursa di Turki. Dalam hubungan ini, yang menarik adalah bahwa selama berada di Turki, Imam ditahan di suatu rumah yang dijaga ketat oleh polisi Iran, padahal hal tersebut jelas bertentangan dengan hukum yang berlaku di Turki. Namun, ini mudah dipahami karena Perdana Menteri Turki pada masa itu adalah Suleyman Demirel, yang konon dikenal sebagai anggota “freemason”.
Selanjutnya, pada bulan Oktober 1965, Imam Khomeini diperbolehkan meninggalkan tempat pengasingan di Bursa untuk dipindahkan ke lingkungan yang lebih sesuai, yakni di Najaf, sebuah kota di Irak yang menjadi salah satu pusat pendidikan masyarakat Syi’ah dan juga sebagai tempat perlindungan pemimpin-pemimpin agama dari Iran. Sebagai misal, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 sejumlah pemuka agama yang mendukung gerakan konstitusi dan boikot tembakau (di Iran), memberikan pengarahan-pengarahannya dari tempat ini karena dianggap relatif aman.
Kendati demikian, kepindahan Imam ke Najaf tidak berarti beliau telah menemukan tempat yang benar-benar aman. Terbukti, Imam sering mendapat gangguan dari para pengikut Partai Ba’ath (sebuah partai berhaluan sosialis-nasionalistik) yang kebetulan sedang melancarkan aksi penindasan umum terhadap rakyat Irak.
Menggerakkan Rakyat Iran dari Najaf
Dari Najaf, Imam Khomeini melanjutkan pengarahan-pengarahan secara berkala, terutama dengan mengeluarkan deklarasi-deklarasi terkait dengan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa Iran. Sebenarnya, Syah sangat berharap bahwa dengan mengasingkan Imam dari Iran, maka pengaruh dan popularitasnya akan berakhir. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Syah dibuat frustrasi.
Pers Barat berpendapat bahwa kemunculan Imam Khomeini secara menonjol dalam memimpin “revolusi” adalah sebagai akibat dari adanya kevakuman pemimpin ummat (rakyat), dan karena tidak adanya alternatif pemimpin lain yang dianggap cocok. Tetapi penilaian seperti ini lebih disebabkan ketidaktahuan mereka tentang perkembangan bertahap terkait dengan peran Imam Khomeini, terutama selama masa pengasingan beliau lebih dari 14 tahun. Misalnya saja, selama beliau diasingkan di Najaf, beliau tidak tinggal diam. Justru dari sana beliau mengeluarkan sejumlah maklumat terkait dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan rakyat Iran. Tentu saja, maklumat-maklumat tersebut berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik di Iran. Sebagai catatan, pada bulan April 1967, Imam Khomeini mengirimkan surat terbuka kepada Perdana Menteri Iran, Amir Abbas Hoveyda, yang isinya menentang Hoveyda dan Syah atas pelecehan mereka yang terus-menerus terhadap ajaran Islam dan Undang-Undang Dasar Iran.
Imam juga mendasarkan perjuangannya dengan melakukan survei yang luas atas berbagai kebijakan pemerintah, kemudian mengkritiknya satu demi satu, seraya memperingatkan penguasa bahwa pada satu saat mereka akan dituntut untuk bertanggungjawab.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan tidak percaya dan ejekan Hoveyda ketika menerima surat itu, mengingat Imam masih berstatus sebagai seorang yang terasing dan pengikut-pengikutnya banyak disembelih di jalan-jalan.
Namun, hal itu patut dipandang sebagai salah satu ciri khas yang menonjol dari kepribadian Imam, bahwa setiap perkataan yang telah dilontarkannya pastilah dimaksudkan secara bersungguh-sungguh. Dan itu, tentu saja, berkontribusi positif terhadap keefektifan kepemimpinannya.
Peringatan Imam — kepada Hoveyda — tersebut kelak terbukti kebenarannya, di mana pada tahun 1979 (setelah kemenangan Revolusi Islam Iran), Hoveyda dieksekusi mati oleh Pengadilan Revolusi.
Seruan kepada Kaum Muslimin Sedunia
Satu contoh lain tentang deklarasi Imam Khomeini ketika berada di pengasingan, yang memiliki hubungan dengan serangkaian peristiwa yang terjadi pada bulan Mei 1970. Pada saat itu, sebuah konsorsium penanaman modal Amerika Serikat menyelenggarakan konferensi di Teheran untuk membicarakan jalan terbaik dan paling efektif dalam rangka eksploitasi ekonomi dan sumber daya alam Iran.
Menyusul peristiwa ini, salah seorang pengikut Imam Khomeini, Ayatullah Saidi, mengeluarkan deklarasi dalam masjid yang dipimpinnya di Teheran. Inti deklarasi itu adalah menentang konferensi tersebut dan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan memprotesnya. Ia kemudian ditahan dan dianiaya hingga syahid oleh polisi rahasia, SAVAK. Atas kejadian ini, Imam Khomeini mengeluarkan seruan kepada rakyat Iran untuk memperbaharui dan menyegarkan perjuangan mereka melawan rezim Pahlevi.
Imam Khomeini kemudian menentang pengeluaran uang secara mubadzir untuk merayakan peringatan 2.500 tahun kerajaan, sebuah pesta perayaan yang digagas dan direncanakan dengan matang oleh orang-orang Israel yang menjadi penasehat rezim Syah Pahlevi.
Ketika Syah meresmikan berlakunya sistem satu partai di Iran, Imam juga mengutuk dengan keras bahwa siapa saja yang turut serta dalam partai itu secara suka rela tanpa paksaan, maka ia adalah berkhianat terhadap bangsa dan Islam.
Seruan-seruan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan publik dan masyarakat Islam di seluruh dunia juga banyak dilontarkan Imam Khomeini. Salah satu yang penting adalah tentang peranan (operasi rahasia) Israel di negeri-negeri Islam.
Terkait dengan itu, pada tahun 1971 dan selama masa revolusi, Imam mengeluarkan seruan atau deklarasi-deklarasi kepada dunia Islam; tentu saja diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan — antara lain — dibagi-bagikan selama musim Haji. Dalam deklarasi-deklarasi ini, beliau menganjurkan pentingnya membangun solidaritas dan kerjasama di kalangan kaum Muslimin sedunia untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi bersama.
Peranan dalam Revolusi Islam
Dalam menggerakkan Revolusi Islam, ciri khas kepemimpinan Imam Khomeini adalah bersifat langsung, dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa pada permulaan revolusi itu berhubungan langsung dengan beliau secara pribadi.
Pada bulan Januari 1978, pers yang dikuasai pemerintah menerbitkan satu artikel yang memfitnah Imam dengan dibumbui istilah-istilah keji dan kotor. Artikel tersebut segera mendapatkan reaksi besar dan langsung membangkitkan kemarahan rakyat, terutama di kota Qum. Setelah kebangkitan awal di kota Qum itu — yang menelan korban jiwa cukup besar — segera timbul serangkaian demonstrasi di seluruh Iran dengan intensitas yang semakin meningkat. Sehingga, pada bulan Desember 1978, terjadilah demonstrasi terdahsyat dan terbesar bukan saja dalam sejarah Iran, tetapi juga dalam sejarah (dunia) modern. Keadaan ini memaksa Syah lari terbirit-birit mengasingkan diri ke luar negeri, yang kemudian membuka jalan bagi kemenangan Revolusi Islam.
Sebelum pecahnya demontrasi pada bulan Desember 1978 itu, Imam Khomeini telah diusir dari Irak, tepatnya pada bulan Oktober 1978. Tentu saja pengusiran ini tidak terlepas dari hasil kesepakatan antara rezim Syah dan rezim Ba’ath (Irak). Menarik dicermati, menyikapi kejadian ini, Imam Khomeini mempertimbangkan sejumlah negeri sebagai alternatif untuk mengungsi. Sebenarnya, beliau lebih suka tinggal di suatu negeri Muslim, seperti telah dinyatakannya secara terbuka. Tetapi, tidak ada satu pun negeri Muslim yang memberikan peluang kepada beliau untuk tinggal dengan aman dan sekaligus memberikan kesempatan bagi terselenggaranya kegiatan-kegiatan beliau.
Realitas ini dapat dijadikan sebagai representasi tentang kondisi dan status rezim-rezim yang sedang berkuasa di negeri-negeri Muslim pada masa itu.
Karena dihadapkan pada ketidakmungkinan mendapatkan perlindungan dari negeri-negeri Muslim mana pun — setelah diusir dari Irak — maka Imam Khomeini pergi ke Paris (Perancis), di mana dari sana beliau masih dapat dengan mudah berhubungan dengan para pendukungnya, baik itu yang ada di Amerika Serikat, Eropa, dan tentu saja Iran..
Dari Paris, komunikasi-komunikasi dengan Iran jauh lebih mudah ketimbang dari Najaf. Di sini (Paris) pula beliau lebih mudah dihubungi pers dunia, bahkan oleh para wartawan yang anti Imam dan secara intelektual maupun emosional (mental) tidak bersedia merefleksikan amanat dan aspirasi-aspirasi Imam Khomeini.
Penutup
Dengan menyesal, kajian tentang proklamasi atau deklarasi-deklarasi Imam Khomeini terkait dengan Revolusi Islam terpaksa kami tangguhkan. Namun, secara singkat dapat dikatakan bahwa ketika revolusi tersebut mencapai puncak-puncaknya yang baru, tampak ada satu gaya revolusioner tertentu dari deklarasi-deklarasi yang dikeluarkan Imam menjelang tahun 1399 H (1979 M). Di situ muncul satu kefasihan dan kekuatan ekspresi sehingga dapat dikatakan bahwa dari segi kesusasteraan Iran modern hanya sedikit yang menyamai kualitas dan gaya penulisan deklarasi-deklarasi itu.
Imam Khomeini kembali dari pengasingannya (Paris) ke Iran pada tanggal 1 Februari 1979. Tanpa dukungan pendanaan dari sumber pendapatan yang handal, partai poliltik, kekuatan asing mana pun, dan tanpa melancarkan aksi-aksi perang gerilya, Imam meneguhkan diri sebagai pemimpin sejati — yang patut dipercaya — dari satu gerakan revolusi besar dan luhur.
Setelah terbunuhnya putera beliau, Ayatullah Mustafa Khomeini (pada tanggal 23 Oktober 1977), di tangan agen-agen Syah yang ditugaskan di Irak, muncul aneka fitnah di berbagai surat kabar yang ditujukan kepada Imam. Tidak itu saja, sekadar catatan, pada tahun 1978 terjadi pembunuhan murid-murid sekolah agama di Qum, Tabriz, dan kota-kota lainnya. Dan pada tanngal 8 September 1979 terjadi lagi pembantaian yang intensitasnya semakin meningkat hingga tanggal 11 Februari 1979. Ini mengakibatkan 100.000 orang mati syahid dan 60.000 orang cedera.
Namun, Imam Khomeini dapat mengelola semua situasi itu dengan memukul balik gerakan Syah Reza Pahlevi melalui sebuah Revolusi Islam yang ditopang oleh kekuatan rakyat dan berkarakter Ilahiah, yang akhirnya mampu menjungkirkan Syah dari kursi singgasana.
Singkatnya, kemenangan Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Imam Khomeini merupakan pencapaian cita-cita luhur rakyat Iran yang telah lama mendambakan hadirnya pemerintahan yang sehat dan adil berdasarkan Al-Qur’an (Islam). [**]

No comments:

Post a Comment