Wednesday, July 18, 2012

MASJID MASJID TERTUA DIDUNIA



Masjid Nabawi
Fiqhislam.com - Masjid atau mesjid adalah rumah tempat ibadah umat Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.
 


1. Masjid Quba , Saudi Arabia
 
pertama dibangun: 622
lokasi: Madinah
negara: Arab saudi

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108).
 


Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

 

Masjid Quba dilihat dari atas

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

 

 
Bagian dalam Masjid Quba

Allah s.w.t memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba' dengan Firman-Nya:

"Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri".......(At Taubah, 108).
 Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.


2. Masjid al-Nabawi, Saudi Arabia
 


pertama dibangun: 622
lokasi: Madinah
negara: Arab saudi 

Masjid Nabawi, adalah salah satu mesjid terpenting yang terdapat di Kota Madinah, Arab Saudi karena dibangun oleh Nabi Muhammad saw. dan menjadi tempat makam beliau dan para sahabatnya. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah, yalah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.

 


Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m Rasulullah saw. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi saw. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

 


Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di jaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.

 


Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi saw., sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):

"Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya." (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)
Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):
"Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan."(Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)
Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda (yang artinya):
"Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa." (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Berdasarkan hadis-hadis ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai amal sunah.
 
Makam Nabi Muhammad SAW
 
Rasulullah saw. dimakamkan di tempat meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi saw. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Karena perluasan-perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu kini berada di dalam masjid, yakni di sudut tenggara (kiri depan) masjid.
 
Aisyah sendiri, dan banyak lagi shahabat yang lain, dimakamkan di pemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masjid, Baqi jadi terletak bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.
 
 
3. Masjid al-Qiblatain, Saudi Arabia
 


pertama dibangun: 623
lokasi: Madinah
negara: Arab saudi

Masjid Qiblatain (artinya: masjid dua kiblat) adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.

Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah.

 


Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah salat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144, yang artinya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Setelah turunnya ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara salatnya, kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.

Masjid Qiblatain telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut. Sebelumnya Sultan Sulaiman telah memugarnya di tahun 893 H atau 1543 M. Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat ziarah yang biasa dikunjungi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.
 

4. Masjid Juwatsa, Saudi Arabia

pertama dibangun: 629
lokasi: Al kilabiyah
negara: Arab saudi



Juwatsa adalah nama sebuah desa, yang pada zaman Rasulullah terletak di Hijar, Bahrain. Desa itu merupakan salah satu wilayah yang penting dalam sejarah Islam. Kini, wilayah Hijar dikenal dengan nama al-Ahsa dan sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Arab Saudi. Pada masa Rasulullah SAW. Bahrain terbagi menjadi tiga provinsi. Pertama. Provinsi Hijar (kini bernama al-Hasa terletak di Arab Saudi). Kedua. Provinsi al-Katt (kini bernama al-Qatif juga terletak di Arab Saudi]. Ketiga. Provinsi Awal (kini daerah inilah yang bernama Bahrain).

Di desa itu terdapat sebuah masjid yang tercatat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Abu Daud. Masjid yang dibangun oleh kabilah Abdul Qais itu bernama Masjid Juwatsa. Masjid Juwatsa, sekarang berada di kampung al-Kilabiyah, sekitar 12 kilometer dari Hofuf, al-Ahsa. Arab Saudi.

Ibnu Abbas berkata. "Sesungguhnya shalat Jumat yang pertama kali dilakukan sesudah di masjid Rasulullah SAW ialah di masjid milik kabilah Abdul Qais di Desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain." Di masjid inilah, shalat Jumat pertama kali digelar di luar masjid Nabi SAW.

Masjid Juwatsa merupakan tempat ibadah umat Islam yang pertama kali dibangun di kawasan Timur Arab. Masjid yang dibangun pada tahun ketujuh Hijriah itu, kini hanya berupa puing dan reruntuhan. Menurut legenda, ketika Hajar Aswad dicuri oleh Karmatian dari Makkah, batu tersebut disembunyikan di Masjid Juwatsa selama 22 tahun. Itulah mengapa Masjid Juwatsa mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam. Universitas King Fahd menempatkan Masjid Juwatsa sebagai situs paling suci ketiga di dunia Islam. Imam Ahmad dalam Fadail al-Sahabah (1510) dan Abd al-Razzaq dalam Musanrut menulis "Setelah Rasulullah SAW wafat, orang-orang Arab menjadi murtad, kecuali tiga masjid Masjidil al-Haram. Masjid Nabawi, dan Masjid Bahrain (Masjid Juwatsa)." Maksudnya, ketika Rasulullah SAW meninggal dunia. banyak orang Arab yang murtad, kecuali masyarakat Muslim di Makkah.


5. Masjidil Haram, Saudi Arabia
 


Masjidil Haram (bahasa Arab: المسجد الحرام) adalah sebuah masjid di kota Mekkah, yang dipandang sebagai tempat tersuci bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama dalam ibadah haji. Masjid ini dibangun mengelilingi Ka'bah, yang menjadi arah kiblat bagi umat Islam dalam mengerjakan ibadah salat.
Imam Besar masjid ini adalah Syaikh Abdurrahman As-Sudais, seorang imam yang dikenal dalam membaca Al Qur'an dengan artikulasi yang jelas dan suara yang merdu.

 


Hingga saat ini tidak ada yang tahu persis kapan Masjidil Haram berdiri. Yang tercatat dalam sejarah hanyalah renovasi dan perluasan masjid tersebut. Selain itu, masjidil haram juga dipercaya sebagai masjid tertua di dunia dan dibangun sebelum manusia diciptakan. Yang lebih penting dari sejarahnya, masjid mengelilingi ka’bah yang merupakan kiblat shalat bagi umat Islam seluruh dunia.

 


Sejarah mencatat masid ini dibangun secara permanen oleh sahabat Rosullulloh SAW, Umar bin Khatab pada tahun 638 Masehi, dengan membeli rumah-rumah di sekeliling Ka'bah dan diruntuhkan untuk tujuan perluasan, dan kemudian dilanjutkan lagi pada masa khalifah Usman bin Affan sekitar tahun 647 M. Kata ‘Haram’ dipilih sebagai nama masjid tersebut bukan tanpa alasan. Kata tersebut mengandung makna bahwa memang masjid itu diharamkan bagi umat selain muslim. Masid tersebut juga menjadi tempat yang haram untuk menumpahkan darah. Haramnya Masjidil Haram digunakan untuk menumpahkan darah terungkap dalam surat Al Baqarah ayat 19.

 


Menurut keyakinan umat Islam, Ka'bah atau nama lainnyaBakkah pertama sekali dibina oleh Nabi Adam. Dan kemudian dilanjutkan pada masa Nabi Ibrahim bersama dengan anaknya, Nabi Ismail dan sekaligus membangun masjid di sekitar Ka'bah tersebut.

 


Menurut hadits shahih, satu kali salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Satu kali salat di Masjid Nabawi sama dengan 1.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Adapun satu kali salat di Masjidil Aqsha sama dengan 250 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

 


Sejak zaman khalifah Umar bin Khattab ingga tahun 1988,masjid ini tercatat mengalami renovasi dan perluasan sebanyak 10 kali. Mereka yang berikutnya terekam sejarah memimpin program perluasan dan renovasi masjid tersebut dalah Khalifah Usman bin Affan (648 M), Abdullahibnu Zubair (685 M), Al Walidibnu Abdul Malik (709 M), serta Abu Ja’far al MAnsur Al Abbasi (755 M). Selain itu juga Al Mu’tadlid Al Abbasi (897 M), Al Muqtadir Al Abbasi (918 M), Raja Abdul Aziz Al Saud (1955 M), Raja Fahd ibnu Abdul Aziz Al Saud (1988 M) dan yang terakhir sekarang (2008 M) masih dalam proses perluasan masjid dengan mengosongkan area perhotelan yang dulu tersebar di sekitar masjidil Haram. Setelah sepuluh kali renovasi dan perluasan, sampai akhir tahun 2007 Masjidil Haram luasnya mencapai 328 ribu meter persegi. Dengan areal seluas itu, MASjidil Haram yang berlantai empat ini mampu menampung 914 ribu jamaah dala satu waktu sholat berjamaah. Deluruh proyek perluasan dan renovasi itu tidak menghilangkan benuk asli bangunan Masjidil Haram.


6. Great Mosque of Kufa, Iraq

 

pertama dibangun: 639
lokasi: Kufa
negara: Irak

Masjid Agung Kufah, atau Masjid al-Kufah ( bahasa Arab : مسجد الكوفة المعظم), atau Masjid-al-Azam terletak di Kufah , Irak , merupakan salah satu masjid paling awal dalam Islam. The mosque. Dibangun pada abad ke-7, oleh Muslim ibn 'Aqil - sepupu pertama dari Husain bin 'Ali , dan rekannya Hani bin 'Urwa , dan revolusioner Mukhtar al-Thaqafī .
 


Da'i al-Mutlaq dari Dawoodi Bohra Dr.Syedna Mohammed Burhanuddin melakukan renovasi masjid, yang kemudian diselesaikan secara keseluruhan renovasi 2010.The awal masjid dilakukan oleh kekudusan-Nya Dr.Syedna Mohammed Burhanuddin . Masjid ini dibangun dengan dihiasi batu mulia, emas perak, berlian, rubi dan di setiap sudut satu masjid.


7. Masjid Uqba, Tunisia
 

pertama dibangun: 670
lokasi: Kairouan
negara: Tunisia


Masjid Uqba ( bahasa Arab : جامع عقبة), juga dikenal sebagai Masjid Agung Kairouan (bahasa Arab: جامع القيروان الأكبر), adalah salah satu masjid yang paling penting  di Tunisia, dan menjadi Warisan Dunia UNESCO.

 


Masjid Kairouan dibangun pada 670 oleh pendiri Kairouan Sidi Oqba, tidak lama setelah kedatangan muslim Arab ke Afrika Utara. Setelah itu mengalami penyempurnaan oleh Emir Ahmad Ibrahim Abou pada 863. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Sidi Oqba
Selama berabad-abad, Masjid Agung Kairouan menjabat sebagai tujuan ziarah di Afrika Utara yang tidak dapat melakukan perjalanan panjang ke Mekah. Menurut keyakinan populer, tujuh perjalanan ke Kairouan bernilai satu haji ke Mekah.
 
8. Masjid Imam Hussain, Iraq
 
pertama dibangun: 680
lokasi: Karbala
negara: Irak


Dari Kuil Husain bin  'Ali ( Arab : مقام الامام الحسين) adalah salah satu masjid tertua di Bumi dan situs suci dari Islam Syi'ah di kota Karbala , Irak . Ia berdiri di lokasi kuburan Husain bin 'Ali , cucu kedua Muhammad , dekat tempat di mana ia terbunuh dalam Pertempuran Karbala pada 680 Masehi . Makam Husain bin 'Ali adalah salah satu tempat suci bagi kaum Shiah di luar Mekah dan Madinah , dan banyak melakukan ziarah ke situs. Setiap tahun, jutaan peziarah mengunjungi kota untuk mengamati 'Asyura , yang menandai peringatan kematian  Husain bin 'Ali.

 
Makam Husain bin 'Ali
 
Bagian dalam Masjid dan Makam Husain bin 'Ali


Para Umayyah dan Abbasiyah khalifah mencegah pembangunan tempat-tempat suci dan ziarah putus asa ke situs.  Kuburan dan lampiran dihancurkan oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mutawakkil di 850-851 dan Syiah ziarah dilarang, tetapi tempat-tempat suci di Karbala dan Najaf dibangun oleh Buwayhid emir al Adud '-Daulah di 979-980 Masehi.


9. Masjid Al-Aqsa, Jerusalem

 

pertama dibangun: 705
lokasi: Jerusalem



Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha (bahasa Arab:المسجد الاقصى, Al-Masjid Al-Aqsha, arti harfiah: "masjid terjauh") adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Kompleks tempat masjid ini (di dalamnya juga termasuk Kubah Batu) dikenal oleh umat Islam dengan sebutan Al-Haram Asy-Syarif atau "tanah suci yang mulia". Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci (bahasa Ibrani: הַר הַבַּיִת, Har haBáyit, bahasa Inggris: Temple Mount), suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri.

 

Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Muslim percaya bahwa Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Al-Aqsa dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Kitab-kitab hadist menjelaskan bahwa Muhammad mengajarkan umat Islam berkiblat ke arah Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu kiblat salat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, hingga sekarang. Pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Surah Al-Isra' ayat 1) meliputi seluruh kawasan Al-Haram Asy-Syarif.

 

Masjid Al-Aqsa pada awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Umar bin Khattab, salah seorang Khulafaur Rasyidin, tetapi telah diperbaiki dan dibangun kembali oleh khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Al-Walid pada tahun 705 Masehi. Setelah gempa bumi tahun 746, masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh khalifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 754, dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780.
Gempa berikutnya menghancurkan sebahagian besar Al-Aqsa pada tahun 1033, namun dua tahun kemudian khalifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri hingga kini. Dalam berbagai renovasi berkala yang dilakukan, berbagai dinasti kekhalifahan Islam telah melakukan penambahan terhadap masjid dan kawasan sekitarnya, antara lain pada bagian kubah, fasad, mimbar, menara, dan interior bangunan.
Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka menggunakan masjid ini sebagai istana dan gereja, namun fungsi masjid dikembalikan seperti semula setelah Shalahuddin merebut kembali kota itu. Renovasi, perbaikan, dan penambahan lebih lanjut dilakukan pada abad-abad kemudian oleh para penguasa Ayyubiyah, Mamluk, Utsmaniyah, Majelis Tinggi Islam, dan Yordania. Saat ini, Kota Lama Yerusalem berada di bawah pengawasan Israel, tetapi masjid ini tetap berada di bawah perwalian lembaga wakaf Islam pimpinan orang Palestina.
 
Bagian dalam Masjid Al Aqsa

Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan mimbar kuno Shalahuddin Al-Ayyubi terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar baru yang dikerjakan di Yordania, meskipun ada pula yang menyatakan bahwa mimbar buatan Jepara digunakan di masjid ini.


10. Masjid Al-Zaytuna, Tunisia

 


Masjid Al-Zaytuna, atau Ez-Zitouna atau Ezzitouna Masjid ( bahasa Arab : جامع الزيتونة, secara harfiah berarti Mesjid Zaitun) adalah besar masjid di Tunis , dekat pantai utara Afrika.

Masjid ini adalah yang tertua di Ibukota Tunisia dan meliputi area seluas 5.000 meter persegi (1,2 hektar ) dengan sembilan pintu masuk . Memiliki 160 kolom otentik berasal dari reruntuhan kota tua dari Kartago.  Masjid ini dikenal menjadi tuan rumah salah satu universitas terbesar dan pertama dalam sejarah Islam. Banyak cendekiawan Muslim yang lulus dari Al-Zaytuna selama lebih dari seribu tahun. Dari Ibnu 'Arafa, salah satu ulama besar Islam, Imam Maziri, yang tradisionalis  dan ahli besar hukum untuk penyair terkenal Tunisia Aboul-Qacem Echebbi dan banyak orang lain semua mengajar di sana.

 

Al-Zaytuna adalah masjid kedua yang dibangun di Ifriqiya dan Maghreb kawasan setelah Masjid Uqba dalam Al-Kairouan. Tanggal pasti bangunan bervariasi menurut sumber. Ibnu Khaldun dan Al-Bakri menulis bahwa itu dibangun dalam 116 Hijriah (731 Masehi ) oleh Obeid-Allah Habhab Ibn Al.

 

Al-Zaytuna masjid mengikuti desain dan arsitektur masjid sebelumnya, terutama Masjid Uqba , dan merupakan inspirasi bagi masjid kemudian seperti Masjid Agung Cordoba .Halaman dapat diakses melalui sembilan pintu lateral dan bentuk persegi panjang dikelilingi oleh galeri ,didukung oleh kolom yang terbuat dari berbagai marmer, granit atau porfiri yang diambil dari monumen kuno (terutama dari Carthage ), seperti juga yang di ruang doa. Dibangun pada tahun 1894, ketinggian menara adalah 43 meter (141 ft) dan meniru dekorasi menara Almohad dari Masjid Kasbah dengan bahan terbuat dari kapur. Presiden Bourguiba dan Ben Ali melakukan pekerjaan utama restorasi dan rehabilitasi, khususnya selama tahun 1960-an dan 1990-an.
Sumber: Khazanah Islam 

No comments:

Post a Comment